<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183</id><updated>2012-02-16T01:40:45.289-08:00</updated><category term='Alam'/><category term='Teknologi'/><category term='Seni'/><category term='Masalah'/><title type='text'>Indonesia News</title><subtitle type='html'>Indonesia Post, Headline, News, Infotainment, To day</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-6402385548890253369</id><published>2011-09-14T02:14:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T02:14:03.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam'/><title type='text'>Raibnya Satwa Gunung Lemongan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah Gunung Lemongan di Desa&amp;nbsp; Papringan, Kecamatan Klakah, Kabupaten&amp;nbsp; Lumajang, Jawa Timur, sebagian&amp;nbsp; terekam di Paseban Agung Sunyoruri.&amp;nbsp; Ini merupakan padepokan spiritualis&amp;nbsp; Pancasila yang didirikan pada&amp;nbsp; Agustus 1964 oleh Citro Sridono Sasmito&amp;nbsp; alias Subiantoro.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Harimau loreng serta macan tutul&amp;nbsp; dan kumbang terkadang menampakkan&amp;nbsp; diri di sekitar padepokan,&amp;nbsp; kata Subiantoro&amp;nbsp; atau Mbah Citro saat ditemui Tempo,&amp;nbsp; Jumat pekan lalu. Pria yang sudah&amp;nbsp; 47 tahun tinggal di kaki Gunung Lemongan&amp;nbsp; ini masih ingat kijang buntung berkaki&amp;nbsp; tiga.&amp;nbsp; Murid-murid padepokan sering menyaksikan&amp;nbsp; rombongan ajak atau anjing&amp;nbsp; hutan memburu celeng. Setelah celeng&amp;nbsp; tertangkap, ajak menyantapnya beramairamai.&amp;nbsp; Hingga 1970-an, padepokan itu&amp;nbsp; dikelilingi rimbunan pohon tinggi besar&amp;nbsp; jenis anggrang dan suren. Hutan bambu&amp;nbsp; juga menjadi ciri khas kawasan itu.&amp;nbsp; Setelah itu, datanglah periode perambahan&amp;nbsp; hutan oleh warga dan pemerintah.&amp;nbsp; Mereka menanam jagung dan pemerintah&amp;nbsp; menyebar bibit pohon jati. Mulai&amp;nbsp; 1998, penjarahan hutan menjadi-jadi.&amp;nbsp; Walhasil, profil hutan berubah dan Mbah&amp;nbsp; Citro tidak pernah melihat lagi satwa&amp;nbsp; langka di kaki Gunung Lemongan.&amp;nbsp; Gatot, pegawai Bagian Humas dan&amp;nbsp; Hukum Agraria KPH Probolinggo, mencatat,&amp;nbsp; pada 1998-2000, terjadi penjarahan&amp;nbsp; kayu besar-besaran di wilayah hutan produksi&amp;nbsp; yang luasnya 2.500 hektare itu.&amp;nbsp; Hutan yang rusak seluas 400 hektare.&amp;nbsp; Kerusakan ini menjadi penyebab punahnya&amp;nbsp; satwa langka di wilayah itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tYsyJKrCj7o/TnBwUQ1TC8I/AAAAAAAAAwY/AEp8RhNEJTc/s1600/ok.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-tYsyJKrCj7o/TnBwUQ1TC8I/AAAAAAAAAwY/AEp8RhNEJTc/s320/ok.JPG" width="218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Balai Konservasi Sumber Daya Alam&amp;nbsp; mencoba melakukan penangkaran satwa&amp;nbsp; liar yang dilindungi.&amp;nbsp; Kami memberikan&amp;nbsp; izin kepada masyarakat serta lembaga&amp;nbsp; untuk memelihara satwa liar, seperti&amp;nbsp; kijang dan rusa,&amp;nbsp; kata Pudjiadi, Kepala&amp;nbsp; Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo.&amp;nbsp; Langkah lain dilakukan warga dengan&amp;nbsp; penanaman pohon. Hal ini dilakukan Abdullah&amp;nbsp; al-Kudus, tokoh penggerak Laskar&amp;nbsp; Hijau atau kelompok pemuda yang peduli&amp;nbsp; terhadap konservasi dan kelestarian Gunung&amp;nbsp; Lemongan.&amp;nbsp; Pembibitan mulai dilakukan&amp;nbsp; di rumah-rumah warga sekitar,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata Aak panggilan Abdullah al-Kudus.&amp;nbsp; Ribuan bibit buah-buahan ditanam di&amp;nbsp; area seluas kurang-lebih 500 hektare,&amp;nbsp; tepatnya di petak 12-A, selama tiga tahun&amp;nbsp; terakhir ini.&amp;nbsp; Sayang, sejak awal Agustus lalu, terjadi&amp;nbsp; kebakaran hutan yang memusnahkan&amp;nbsp; pohon di kawasan seluas 100 hektare&amp;nbsp; itu. Karena itu, mereka benar-benar&amp;nbsp; menjaga lahan lainnya.&amp;nbsp; Dengan kembali hijaunya hutan Gunung&amp;nbsp; Lemongan, kata Aak, secara otomatis&amp;nbsp; akan mengembalikan lagi habitat&amp;nbsp; beragam satwa yang tersimpan dalam riwayat&amp;nbsp; memori warga setempat. Itu pula&amp;nbsp; yang menjadi harapan Mbah Citro, yang&amp;nbsp; menjadi saksi kekhasan satwa di kawasan&amp;nbsp; Gunung Lemongan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-6402385548890253369?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/6402385548890253369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/09/raibnya-satwa-gunung-lemongan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6402385548890253369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6402385548890253369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/09/raibnya-satwa-gunung-lemongan.html' title='Raibnya Satwa Gunung Lemongan'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tYsyJKrCj7o/TnBwUQ1TC8I/AAAAAAAAAwY/AEp8RhNEJTc/s72-c/ok.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-8202817334084629879</id><published>2011-01-24T02:14:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T02:14:10.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah'/><title type='text'>Indonesia = Gayusnesia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana kalau kita&amp;nbsp; usulkan nama negara&amp;nbsp; ini diganti saja menjadi&amp;nbsp; GAYUSNESIA.&amp;nbsp; Dasar negaranya:&amp;nbsp; Panca-Bakti Korupsi,Korupsi adalah&amp;nbsp; kepercayaan kami, kemanusiaan yang&amp;nbsp; berperadaban korup, persatuan koruptor,&amp;nbsp; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat&amp;nbsp; berkorupsi dalam permusyawatan&amp;nbsp; dan perwakilan, kebebashukuman bagi&amp;nbsp; seluruh koruptor .&amp;nbsp; Kutipan di atas adalah e-mail yang&amp;nbsp; saya terima dari seorang teman. Saya&amp;nbsp; yakin pandangan sarkastis dan sinistis&amp;nbsp; lainnya yang senada dengan kutipan di&amp;nbsp; atas banyak yang disampaikan oleh&amp;nbsp; anggota masyarakat, baik lewat dunia&amp;nbsp; maya maupun dalam pembicaraan sehari-&amp;nbsp; hari. Semuanya berawal dari keheranan&amp;nbsp; dan ketakjuban melihat kekuatan-&amp;nbsp; kekuatan para mafia yang mampu&amp;nbsp; mempecundangi semua lembaga yang&amp;nbsp; menjalankan fungsi negara dalam penegakan&amp;nbsp; hukum.&amp;nbsp; Bagaimana mungkin eksekutif bisa&amp;nbsp; dipecundangi begitu mudah. Sebagaimana&amp;nbsp; yang diketahui, kejaksaan dan&amp;nbsp; kepolisian adalah unsur penegakan hukum&amp;nbsp; yang merupakan bagian dari eksekutif.&amp;nbsp; Publik melihat bagaimana kekuatan&amp;nbsp; kejaksaan serta Polri menjadi lumpuh,&amp;nbsp; bahkan terkesan terkooptasi, oleh&amp;nbsp; kekuatan the unseen hand (tangan yang&amp;nbsp; tidak kelihatan) mafia pajak dan hukum.&amp;nbsp; Bagaimana mungkin penjara, yang&amp;nbsp; berada di bawah pengawasan kepolisian,&amp;nbsp; bisa begitu mudah mengakomodasi&amp;nbsp; pelayanan personal yang begitu eksklusif&amp;nbsp; untuk seorang Gayus (dengan bebas&amp;nbsp; keluar-masuk 68 kali penjara serta pelesiran&amp;nbsp; ke luar negeri). Bagaimana&amp;nbsp; mungkin daya investigasi Polri dan Kejaksaan&amp;nbsp; RI menjadi hilang saat berhadapan&amp;nbsp; dengan masalah Gayus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika berhadapan dengan kasus terorisme,&amp;nbsp; kemampuan investigasi dan&amp;nbsp; eksekusi penegakan hukum Polri, misalnya,&amp;nbsp; sangat bernas dalam mengungkap&amp;nbsp; jaringan terorisme tersebut dan&amp;nbsp; melumpuhkan aktor-aktor pentingnya.&amp;nbsp; Tapi mengapa, ketika berhadapan dengan&amp;nbsp; kasus Gayus, mereka kehilangan&amp;nbsp; semua kecerdasan, ketangkasan, dan&amp;nbsp; kekuatannya untuk mengungkap jaringan&amp;nbsp; Gayus ini.&amp;nbsp; Bagaimana mungkin anggota legislatif&amp;nbsp; tidak merasa perlu ikut berpartisipasi&amp;nbsp; secara signifikan mengungkap mafia&amp;nbsp; pajak dan hukum dalam fenomena Gayus&amp;nbsp; ini. Kalau DPR bisa merasakan keresahan&amp;nbsp; rakyat yang mereka wakili,&amp;nbsp; tentu mereka akan menggunakan hakhak&amp;nbsp; konstitusi yang mereka miliki secara&amp;nbsp; total untuk menekan eksekutif agar&amp;nbsp; bekerja total mengungkap jaringan mafia&amp;nbsp; yang berada di belakang Gayus.&amp;nbsp; Konstitusi kita memberi hak pengawasan&amp;nbsp; penyelenggaraan negara kepada&amp;nbsp; DPR. Mereka antara lain diberi senjata&amp;nbsp; dalam bentuk hak untuk melakukan investigasi/&amp;nbsp; interpelasi dan hak untuk menyatakan&amp;nbsp; pendapat dari investigasi&amp;nbsp; yang dilakukannya.&amp;nbsp; Sedangkan kekuatan yudikatif kita&amp;nbsp; memang sudah lama dirasakan hilang&amp;nbsp; eksistensinya dalam menghadirkan keadilan&amp;nbsp; masyarakat. Publik merasakan&amp;nbsp; bahwa pengadilan adalah institusi negara&amp;nbsp; yang hanya bernas menegakkan&amp;nbsp; hukum ketika berhadapan dengan mereka&amp;nbsp; yang berstatus duafa (kaum lemah)&amp;nbsp; dari sisi kekuatan sosial-politik&amp;nbsp; dan finansial. Menghadapi mereka yang&amp;nbsp; punya kekuasaan, penegakan hukum&amp;nbsp; menjadi tumpul, bahkan hilang.&amp;nbsp; Mengapa lembaga-lembaga negara&amp;nbsp; tersebut menjadi tidak berdaya ketika&amp;nbsp; berhadapan dengan korupsi? Jawabnya&amp;nbsp; singkat, karena telah terjadi salah penempatan&amp;nbsp; ideologi dalam menjalankan&amp;nbsp; fungsi dan perannya. Ideologi penyelenggara&amp;nbsp; negara kita dalam bidang hukum&amp;nbsp; bukanlah&amp;nbsp; hukum untuk keadilan ,&amp;nbsp; melainkan&amp;nbsp; hukum untuk uang . &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negara adalah entitas peradaban&amp;nbsp; yang diberi hak monopoli dalam menetapkan&amp;nbsp; hukum dan menegakkannya dengan&amp;nbsp; tujuan hadirnya keadilan bagi seluruh&amp;nbsp; masyarakat.Ketika negara berubah&amp;nbsp; menjadi pasar, hukum berubah&amp;nbsp; menjadi komoditas. Seperti yang kita&amp;nbsp; ketahui, ideologi pasar adalah maksimalisasi&amp;nbsp; profit dan self interest. Maka,&amp;nbsp; ketika ideologi tersebut masuk menjadi&amp;nbsp; ideologi pelaku negara, sempurnalah&amp;nbsp; perubahan fungsi dari entitas negara&amp;nbsp; menjadi pasar. Dan celakalah warga negara&amp;nbsp; yang duafa. Mengapa? Sebab, ketika&amp;nbsp; hukum identik dengan komoditas,&amp;nbsp; sedangkan pasar untuk komoditas yang&amp;nbsp; bernama&amp;nbsp; hukum tersebut adalah pasar&amp;nbsp; monopoli, keadilan adalah sesuatu&amp;nbsp; yang sulit diraih. Ukuran kebenaran&amp;nbsp; hukum adalah uang. Dan hukum pasar&amp;nbsp; berlaku bagi para pencari keadilan: siapa&amp;nbsp; yang ingin hukum berpihak kepadanya,&amp;nbsp; dia harus membayar. Semakin tinggi&amp;nbsp; uang yang Anda keluarkan, semakin&amp;nbsp; hukum berpihak kepada Anda.&amp;nbsp; Saya ingin mengingatkan para elite&amp;nbsp; lembaga-lembaga negara, kiranya tidak&amp;nbsp; mati rasa dan bisa bergegas mengurangi&amp;nbsp; kegalauan serta keresahan masyarakat&amp;nbsp; dari tidak berfungsinya peran&amp;nbsp; lembaga negara dalam mengatasi korupsi.&amp;nbsp; Gayus dan Century adalah megafenomena&amp;nbsp; yang mencerminkan hal tersebut.&amp;nbsp; Akumulasi kegalauan dan kekecewaan&amp;nbsp; masyarakat akan menjadi energi&amp;nbsp; shock perubahan sosial yang akan&amp;nbsp; merugikan pemilik kekuasaan. Pada&amp;nbsp; sistem yang totaliter, seperti dalam kasus&amp;nbsp; penguasa di era Orba dan Ben Ali-&amp;nbsp; Tunisia, butuh waktu 20-30 tahun akumulasi&amp;nbsp; energi shock untuk menumbangkan&amp;nbsp; kekuasaan.Tapi, dalam era keterbukaan&amp;nbsp; dan demokrasi,waktu yang&amp;nbsp; dibutuhkan akan jauh lebih singkat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andi Irawan, PEMINAT MASALAH EKONOMI-POLITIK- tempo e paper&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-8202817334084629879?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/8202817334084629879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/01/indonesia-gayusnesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/8202817334084629879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/8202817334084629879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/01/indonesia-gayusnesia.html' title='Indonesia = Gayusnesia'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-9007067833864822859</id><published>2011-01-07T03:23:00.000-08:00</published><updated>2011-01-07T03:23:05.596-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah'/><title type='text'>Negeri Para Joki</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TSb3h7T-VaI/AAAAAAAAAu0/UprQYyEfXqM/s1600/untitled.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TSb3h7T-VaI/AAAAAAAAAu0/UprQYyEfXqM/s320/untitled.JPG" width="278" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selamat datang di negeri joki. Di negara ini, ada&amp;nbsp; banyak hal yang bisa diwakilkan kepada para joki.&amp;nbsp; Mulai dari joki three-in-one yang mangkal di&amp;nbsp; mulut-mulut jalan protokol Ibu Kota, joki yang mewakili&amp;nbsp; calon mahasiswa perguruan tinggi, hingga mereka&amp;nbsp; yang menggantikan calon pegawai negeri sipil dalam&amp;nbsp; ujian penerimaan. Berita terakhir yang cukup mengejutkan&amp;nbsp; adalah munculnya joki narapidana.&amp;nbsp; Kisah perjokian narapidana ini memang baru sekali&amp;nbsp; ini terungkap. Kasiem, seorang narapidana kasus penyelewengan&amp;nbsp; pupuk yang sudah divonis bersalah dan&amp;nbsp; harus dipenjara, digantikan oleh Karni, yang konon&amp;nbsp; mendapat bayaran Rp 10 juta. Usaha ini terungkap secara&amp;nbsp; tak sengaja. Gara-garanya, tetangga Kasiem yang&amp;nbsp; menjenguk ke sel tak mendapati sang narapidana. Ia&amp;nbsp; justru bertemu dengan Karni, yang tak dikenalnya.&amp;nbsp; Kasus ini mungkin terlihat kecil dan berskala lokal.&amp;nbsp; Tapi penyelesaiannya tidak cukup dengan hanya memecat&amp;nbsp; dan memutasi pejabat yang terlibat. Apa yang&amp;nbsp; terjadi di Bojonegoro itu hanyalah satu dari sekian banyak&amp;nbsp; cara untuk mengakali hukuman.Kebobrokan&amp;nbsp; aparat negeri ini membuat hukuman penjara tak lagi&amp;nbsp; menimbulkan efek jera.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada banyak cara yang dipakai&amp;nbsp; agar tembok penjara setipis kertas koran.&amp;nbsp; Jika berduit banyak seperti Gayus Tambunan, orang&amp;nbsp; bahkan tak perlu menyewa joki. Ia bisa keluar-masuk&amp;nbsp; rumah tahanan berpuluh-puluh kali, terbang ke luar&amp;nbsp; negeri untuk mengurus aset kekayaannya, atau pelesir&amp;nbsp; ke Bali sambil menonton bola tenis yang terpentalpental.&amp;nbsp; Kalaupun tak bisa keluar, sel penjara toh bisa&amp;nbsp; disulap menjadi senyaman hotel, seperti dilakukan&amp;nbsp; Ayin atau Artalyta Suryani. Bahkan, dari penyelidikan&amp;nbsp; Badan Narkotika Nasional, banyak bandar narkotik&amp;nbsp; menjadikan penjara sebagai&amp;nbsp; kantor . Dari dalam bui,&amp;nbsp; mereka mengatur perdagangan obat bius.&amp;nbsp; Vonis penjara dari hakim terlalu lama? Santai saja.&amp;nbsp; Akan ada remisi dan berbagai pengurangan hukuman.&amp;nbsp; Bila&amp;nbsp; berperilaku baik , narapidana bisa benar-benar&amp;nbsp; menghirup udara bebas jauh sebelum masa hukumannya&amp;nbsp; selesai.&amp;nbsp; Itulah faktanya.Yang makin membuat miris, semua&amp;nbsp; kebusukan itu terkesan ditutup-tutupi oleh aparat penegak&amp;nbsp; hukum. Pengusutan baru dilakukan setelah masalahnya&amp;nbsp; ramai dibicarakan publik. Pelesiran Gayus&amp;nbsp; ke Bali dan luar negeri tidak terungkap oleh aparat,&amp;nbsp; melainkan justru oleh laporan masyarakat yang&amp;nbsp; awalnya bahkan dibantah oleh penegak hukum. Demikian&amp;nbsp; juga sel mewah Ayin dan kasus Kasiem di Bojonegoro.&amp;nbsp; Semua diungkap dari laporan masyarakat.&amp;nbsp; Ini menunjukkan adanya kongkalikong di antara petugas&amp;nbsp; dan juga lemahnya pengawasan.&amp;nbsp; Salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat,&amp;nbsp; Gayus Lumbuun, mengusulkan agar ada penambahan&amp;nbsp; anggaran untuk lembaga pemasyarakatan. Sebab,menurut&amp;nbsp; dia, minimnya anggaran menjadi sebab banyaknya&amp;nbsp; ketidakberesan di sana. Anggaran yang minim&amp;nbsp; memang masalah.Tapi bukan itu akar persoalannya.&amp;nbsp; Masalah mendasarnya adalah kuatnya mental meminjam&amp;nbsp; judul salah satu film Warkop DKI&amp;nbsp; Semua&amp;nbsp; Bisa Diatur . Petugas hukum dan aparat negara lainnya&amp;nbsp; selalu punya cara untuk mengakali peraturan&amp;nbsp; yang seharusnya mereka jaga.&amp;nbsp; Lalu, apa gunanya penjara? Apa gunanya hukuman?&amp;nbsp; Apa gunanya pengadilan? Di negeri para joki ini, semua&amp;nbsp; peraturan bisa diakali. Semua bisa diatur, dengan&amp;nbsp; atau tanpa joki&amp;nbsp; Koran Tempo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-9007067833864822859?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/9007067833864822859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/01/negeri-para-joki.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/9007067833864822859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/9007067833864822859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2011/01/negeri-para-joki.html' title='Negeri Para Joki'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TSb3h7T-VaI/AAAAAAAAAu0/UprQYyEfXqM/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-6001351208302327318</id><published>2010-10-15T02:06:00.000-07:00</published><updated>2010-10-15T02:06:02.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah'/><title type='text'>Asap Kendaraan Bermotor</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Emisi CO2 dan CH4&amp;nbsp; menumpuk di tengah&amp;nbsp; Jakarta. Banyak pengendara&amp;nbsp; sepeda motor mengisi&amp;nbsp; bensin di luar Jakarta.&amp;nbsp; Pemerintah Jakarta mulai&amp;nbsp; memperketat pengendara sepeda&amp;nbsp; motor berlalu-lalang.&amp;nbsp; Bulan depan mereka harus menyalakan&amp;nbsp; lampu pada siang hari.&amp;nbsp; Jika&amp;nbsp; tidak, kami akan memberikan sanksi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata Kepala Direktorat Lalu&amp;nbsp; Lintas Kepolisian Daerah Metro&amp;nbsp; Jaya Komisaris Besar Condro Kirono&amp;nbsp; kepada pers, Selasa lalu. Sesuai&amp;nbsp; dengan undang-undang, ujarnya,&amp;nbsp; sanksi pidana berupa kurungan 15&amp;nbsp; hari atau denda Rp 100 ribu.&amp;nbsp; Dua bulan lalu, Gubernur Jakarta&amp;nbsp; Fauzi Bowo melontarkan rencana&amp;nbsp; melarang sepeda motor melewati&amp;nbsp; jalur protokol pada jam tertentu.&amp;nbsp; Namun rencana itu ditentang kelompok&amp;nbsp; pengendara sepeda motor.&amp;nbsp; Memang, setiap hari di Jakarta ada&amp;nbsp; penambahan sepeda motor baru sebanyak&amp;nbsp; 890 unit dan 240 unit mobil.&amp;nbsp; Pembatasan itu, kata Fauzi, salah&amp;nbsp; satunya untuk mengatur kemacetan&amp;nbsp; di ibu kota yang&amp;nbsp; panjang jalannya cuma 7.650&amp;nbsp; kilometer.&amp;nbsp; Pertumbuhan kendaraan&amp;nbsp; di Jakarta setiap tahun naiknya&amp;nbsp; 10 persen.Pada 1998 masih&amp;nbsp; di bawah 4 juta unit dan&amp;nbsp; pada 2004 meningkat jadi 6&amp;nbsp; juta unit. Survey arterial road&amp;nbsp; system development study&amp;nbsp; (ARSDS) pada 1985 mencatat&amp;nbsp; sebanyak 13 juta perjalanan&amp;nbsp; atau trip dilakukan&amp;nbsp; warga Jakarta setiap harinya.&amp;nbsp; Kemudian survei study&amp;nbsp; on integrated transportation&amp;nbsp; master plan (SITRAMP) fase&amp;nbsp; 2 pada 2002 mencatatkan peningkatan&amp;nbsp; sekitar 30 persen,&amp;nbsp; yakni menjadi sekitar 17 juta&amp;nbsp; trip. Angka ini belum ditambah&amp;nbsp; trip yang dilakukan para&amp;nbsp; pengendara kendaraan dari&amp;nbsp; luar Jakarta. Untuk 2008, naik&amp;nbsp; lagi menjadi 20,7 juta trip&amp;nbsp; tiap hari.&amp;nbsp; Dari 6 juta kendaraan,&amp;nbsp; porsi terbanyak ditempuh&amp;nbsp; sepeda motor (72,6 persen),&amp;nbsp; diikuti minibus seperti kijang&amp;nbsp; (10,2), sedan (5,9), jip&amp;nbsp; (2,4) dan lainnya, seperti bus,&amp;nbsp; taksi, dan truk. Banyaknya&amp;nbsp; jumlah sepeda motor ternyata&amp;nbsp; berkorelasi dengan tingkat&amp;nbsp; emisi.&amp;nbsp; Sepeda motor&amp;nbsp; menjadi penyumbang terbesar&amp;nbsp; gas CH4 di Jakarta, kata&amp;nbsp; Puji Lestari, ahli polusi udara&amp;nbsp; dari Departemen Teknik&amp;nbsp; Lingkungan, Institut Teknologi&amp;nbsp; Bandung, kemarin.&amp;nbsp; Dari studi yang dilakukan&amp;nbsp; Puji pada 2009, sepeda motor&amp;nbsp; (termasuk bajaj dan bemo)&amp;nbsp; menyumbang 86,95 persen&amp;nbsp; jumlah emisi CH4. Diikuti&amp;nbsp; oleh kendaraan minibus&amp;nbsp; (3,64 persen), sedan (2,93),&amp;nbsp; dan truk (2,41). Untuk emisi&amp;nbsp; CO2, sepeda motor juga jadi&amp;nbsp; penyumbang terbesar yakni&amp;nbsp; 28,08 persen, lalu minibus&amp;nbsp; (19,31), truk dan bus besar&amp;nbsp; (15,74), pikap (15,23), minibus&amp;nbsp; (9,38), dan sedan (5,78).&amp;nbsp; Rabu pekan lalu, Puji memaparkan&amp;nbsp; penelitiannya pada&amp;nbsp; lokakarya yang diadakan&amp;nbsp; Badan Meteorologi Klimatologi&amp;nbsp; dan Geofisika (BMKG)&amp;nbsp; di Jakarta. Pada presentasi&amp;nbsp; itu, dia menjelaskan inventori&amp;nbsp; emisi gas rumah kaca dari&amp;nbsp; sektor transportasi di Jakarta&amp;nbsp; dengan menggunakan&amp;nbsp; pendekatan konsumsi bahan&amp;nbsp; bakar dan jarak tempuh kendaraan&amp;nbsp; (vehicle kilometer&amp;nbsp; travel). Puji hanya melihat&amp;nbsp; pada CO2 dan CH4 yang&amp;nbsp; menjadi penyumbang terbesar&amp;nbsp; gas rumah kaca. Berdasarkan&amp;nbsp; USEPA (2009), gas&amp;nbsp; karbon dioksida menyumbang&amp;nbsp; 50 persen dari keseluruhan&amp;nbsp; emisi gas rumah kaca&amp;nbsp; dan CH4 sebesar 20 persen.&amp;nbsp; Menurut Puji, inventori&amp;nbsp; emisi merupakan salah satu&amp;nbsp; alat yang dapat digunakan&amp;nbsp; sebagai dasar pengambilan&amp;nbsp; keputusan dalam permasalahan&amp;nbsp; pencemaran udara. Inventori&amp;nbsp; ditujukan untuk&amp;nbsp; menghitung besar kontribusi&amp;nbsp; sumber terhadap beban polutan&amp;nbsp; pencemar, dalam hal&amp;nbsp; ini CO2 dan CH4 di Jakarta.&amp;nbsp; Dia membagi berdasarkan&amp;nbsp; jenis kendaraan angkutan&amp;nbsp; penumpang, angkutan ringan,&amp;nbsp; angkutan berat, dan&amp;nbsp; sepeda motor.&amp;nbsp; Selain jumlahnya paling&amp;nbsp; banyak, kata Puji, pembakaran&amp;nbsp; pada mesin sepeda&amp;nbsp; motor tidak sempurna sehingga&amp;nbsp; gas CH4 dan CO2&amp;nbsp; menguap ke udara. Dia&amp;nbsp; membandingkan pula emisi&amp;nbsp; dengan pendekatan konsumsi&amp;nbsp; bahan bakar (BBM) dan&amp;nbsp; jarak tempuh kendaraan&amp;nbsp; (VKT).&amp;nbsp; Untuk kendaraan jenis sedan,&amp;nbsp; taksi, mikrolet, jip, dan&amp;nbsp; pikap, emisi CO2 dengan kedua&amp;nbsp; pendekatan angkanya&amp;nbsp; masih di bawah 5 juta ton per&amp;nbsp; tahun. Namun tidak demikian&amp;nbsp; dengan sepeda motor.&amp;nbsp; Emisi CO2 berdasarkan pendekatan&amp;nbsp; BBM sekitar 4,5 juta&amp;nbsp; ton per tahun,sedangkan menurut&amp;nbsp; pendekatan VKT sebanyak&amp;nbsp; 19 juta ton per tahun.&amp;nbsp; Kecenderungan yang sama&amp;nbsp; terjadi pada emisi CH4. Berdasarkan&amp;nbsp; konsumsi BBM,&amp;nbsp; emisi CH4 sepeda motor sebanyak&amp;nbsp; 5.000 ton per tahun.&amp;nbsp; Namun berdasarkan VKT lebih&amp;nbsp; tinggi, yakni 30.000 ton&amp;nbsp; per tahun. Mengapa bisa terjadi&amp;nbsp; perbedaan ?&amp;nbsp; Hal itu menunjukkan&amp;nbsp; banyak pengguna&amp;nbsp; sepeda motor yang membeli&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-6001351208302327318?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/6001351208302327318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/asap-kendaraan-bermotor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6001351208302327318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6001351208302327318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/asap-kendaraan-bermotor.html' title='Asap Kendaraan Bermotor'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-6582207553021482886</id><published>2010-10-13T02:04:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T02:04:58.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Andalas Bangun Laboratorium Gempa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV2HiplyFI/AAAAAAAAAqc/yx0Rso4kb8E/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV2HiplyFI/AAAAAAAAAqc/yx0Rso4kb8E/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andalas Bangun Laboratorium Gempa&amp;nbsp; PADANG&amp;nbsp;&amp;nbsp; Universitas Andalas Padang akan membangun laboratorium&amp;nbsp; pusat penelitian gempa untuk menguji bangunan&amp;nbsp; tempat tinggal atau gedung yang aman gempa serta simulasi&amp;nbsp; gempa dan tsunami. Laboratorium itu akan dibangun di dekat&amp;nbsp; Fakultas Teknik Universitas Andalas di Limau Manis, Padang,&amp;nbsp; dengan dana awal sebesar Rp 5 miliar dari Badan Nasional&amp;nbsp; Penanggulangan Bencana (BNPB).&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di laboratorium itu nantinya akan dibuat rumah tipe 36, lalu&amp;nbsp; diuji ketahanannya dengan getaran, seperti gempa 7,9 skala&amp;nbsp; Richter atau gempa 9 SR, untuk mengetahui efek gempa&amp;nbsp; terhadap berbagai jenis fondasi,&amp;nbsp; kata Fauzan, Ketua Klinik&amp;nbsp; Konstruksi Universitas Andalas.&amp;nbsp; Pusat penelitian ini bisa dimanfaatkan&amp;nbsp; untuk penelitian gempa di Indonesia.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam pembangunan pusat penelitian gempa ini, Universitas&amp;nbsp; Andalas akan bekerja sama dengan sejumlah ilmuwan gempa&amp;nbsp; dari Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura. Jepang&amp;nbsp; juga menjanjikan bantuan peralatan untuk laboratorium.&amp;nbsp; Pembangunan laboratorium berukuran 30 x 60 meter itu&amp;nbsp; akan dimulai bulan ini. Pembangunan laboratorium membutuhkan&amp;nbsp; Rp 10 miliar dan Rp 20 miliar untuk peralatannya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-6582207553021482886?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/6582207553021482886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/andalas-bangun-laboratorium-gempa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6582207553021482886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/6582207553021482886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/andalas-bangun-laboratorium-gempa.html' title='Andalas Bangun Laboratorium Gempa'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV2HiplyFI/AAAAAAAAAqc/yx0Rso4kb8E/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-5115343938046395170</id><published>2010-10-13T02:01:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T02:01:28.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam'/><title type='text'>Hutan Desa Terluas di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV1X9sZkPI/AAAAAAAAAqY/UZMx3qm4OPM/s1600/hutan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV1X9sZkPI/AAAAAAAAAqY/UZMx3qm4OPM/s320/hutan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hutan Desa Terluas di Indonesia&amp;nbsp; JAMBI&amp;nbsp;&amp;nbsp; Provinsi Jambi akan segera memiliki hutan desa terluas&amp;nbsp; di Indonesia. Warga di 17 desa dari lima wilayah kecamatan&amp;nbsp; di Kabupaten Merangin, Jambi, mengusulkan 49.514&amp;nbsp; hektare lahannya untuk dijadikan hutan desa.&amp;nbsp; Hutan tersebut merupakan kawasan hutan produksi yang&amp;nbsp; termasuk dalam area penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Upaya ini kami lakukan untuk memberikan kesempatan&amp;nbsp; kepada masyarakat desa sekitar mengolah sendiri lahan itu&amp;nbsp; sebagai bentuk pemenuhan rasa keadilan,&amp;nbsp; kata Arif Munandar,&amp;nbsp; Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia&amp;nbsp; (Walhi) Jambi, Senin lalu.&amp;nbsp; Lahan itu pernah diajukan sebagai lahan usaha hutan tanaman&amp;nbsp; industri oleh PT Duta Alam Makmur dengan luas&amp;nbsp; 118.955 hektare.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun izinnya dibatalkan Kementerian Kehutanan&amp;nbsp; karena penolakan masyarakat desa setempat, yang&amp;nbsp; diadvokasi tiga lembaga swadaya, yakni Walhi KKI Warsi, Sumatera&amp;nbsp; Sustainable Support, dan Lembaga Tiga Beradik. Mereka&amp;nbsp; khawatir, bila pengelolaan lahan itu diserahkan kepada&amp;nbsp; perusahaan swasta, kawasan taman nasional akan dirambah.&amp;nbsp; Robert Aritonga dari KKI Warsi menyebutkan bahwa tutupan&amp;nbsp; hutan alam pada area itu mencapai 80 persen.&amp;nbsp; Kami khawatir,&amp;nbsp; bila itu diserahkan kepada pihak swasta, ekosistem dan&amp;nbsp; lingkungan sekitarnya akan rusak, padahal kawasan tersebut&amp;nbsp; merupakan subdaerah aliran Sungai Batanghari yang merupakan&amp;nbsp; sumber penghidupan mayoritas masyarakat Provinsi Jambi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-5115343938046395170?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/5115343938046395170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/hutan-desa-terluas-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/5115343938046395170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/5115343938046395170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/hutan-desa-terluas-di-indonesia.html' title='Hutan Desa Terluas di Indonesia'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLV1X9sZkPI/AAAAAAAAAqY/UZMx3qm4OPM/s72-c/hutan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-5233926149583278018</id><published>2010-10-13T01:47:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T01:47:41.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam'/><title type='text'>Konsentrasi CO2 di Indonesia masih di bawah rata-rata global.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Konsentrasi CO2 di Indonesia masih di bawah rata-rata global. Indonesia akan menambah dua stasiun pemantau atmosfer global.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Foto-foto alat pengukur&amp;nbsp; kualitas udara tampil di&amp;nbsp; dua layar lebar. Ada yang&amp;nbsp; berasal dari stasiun cuaca&amp;nbsp; di Jerman,Afrika Selatan,&amp;nbsp; Kenya, Australia, Malaysia, ada&amp;nbsp; pula yang dari Indonesia. Setiap&amp;nbsp; pengelola stasiun menampilkan&amp;nbsp; hasil pengukuran dan menceritakan&amp;nbsp; pengalamannya.&amp;nbsp; Rabu dan Kamis pekan lalu, Badan&amp;nbsp; Meteorologi, Klimatologi, dan&amp;nbsp; Geofisika memang jadi tuan rumah&amp;nbsp; International Workshop on&amp;nbsp; Global Atmosphere Watch (GAW)&amp;nbsp; di Jakarta. Stasiun di atas adalah&amp;nbsp; bagian dari jaringan 33 stasiun pemantau&amp;nbsp; atmosfer global.&amp;nbsp; Jaringan itu merupakan perwujudan&amp;nbsp; program yang diluncurkan&amp;nbsp; World Meteorological Organization&amp;nbsp; (WMO) badan PBB yang&amp;nbsp; mengurusi bidang meteorologi&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk melakukan pengamatan&amp;nbsp; berbagai parameter yang ada di&amp;nbsp; atmosfer bumi. Termasuk mengukur&amp;nbsp; gas-gas rumah kaca, yakni&amp;nbsp; CO2, CH4,N2O, dan SiF6, yang digunakan&amp;nbsp; Inter-Governmental Panel&amp;nbsp; on Climate Change dan badan&amp;nbsp; internasional lainnya untuk melakukan&amp;nbsp; analisis.&amp;nbsp; Di Indonesia, stasiun itu terletak&amp;nbsp; di Bukit Kototabang, Sumatera&amp;nbsp; Barat, yang beroperasi sejak 2004.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kami akan membangun dua stasiun&amp;nbsp; lagi di Sulawesi Tengah dan&amp;nbsp; Papua,&amp;nbsp; kata Kepala BMKG Sri&amp;nbsp; Woro Budiati Harijono. Bukit Kototabang&amp;nbsp; sengaja dipilih karena&amp;nbsp; faktor geografis dan astronomis.&amp;nbsp; Bersama stasiun Mount Kenya,&amp;nbsp; Bukit Kototabang tepat berada di&amp;nbsp; lintang 0&amp;nbsp; (garis khatulistiwa) &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan Kenya, yang&amp;nbsp; merupakan daerah gurun, Bukit&amp;nbsp; Kototabang mewakili daerah yang&amp;nbsp; memiliki hutan hujan tropis dengan&amp;nbsp; tingkat kelembapan dan curah&amp;nbsp; hujan yang tinggi. Selain itu,&amp;nbsp; letak geografis Bukit Kototabang&amp;nbsp; yang dekat dengan Samudra Hindia&amp;nbsp; menjadi kajian yang menarik&amp;nbsp; dari sudut pandang meteorologi.&amp;nbsp; Radius 30 kilometer dari stasiun&amp;nbsp; Bukit Kototabang bebas dari permukiman&amp;nbsp; penduduk. Hasil pengukuran&amp;nbsp; udara langsung dibawa ke&amp;nbsp; kantor NOAA (National Oceanic&amp;nbsp; Atmospheric Administration)&amp;nbsp; Amerika Serikat untuk dianalisis,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata Kepala Pusat Perubahan&amp;nbsp; Iklim dan Kualitas Udara BMKG&amp;nbsp; Edvin Aldrin. Stasiun di negara&amp;nbsp; lainnya juga harus menyerahkan&amp;nbsp; hasilnya kepada NOAA agar tercapai&amp;nbsp; standardisasi pengukuran.&amp;nbsp; Sejak 2004, konsentrasi CO2&amp;nbsp; yang terukur di Stasiun GAW Bukit&amp;nbsp; Kototabang menunjukkan peningkatan&amp;nbsp; yang signifikan dan semakin&amp;nbsp; mendekati konsentrasi rata-&amp;nbsp; rata di atmosfer bumi, yakni&amp;nbsp; 390 part per million (ppm). Ketika&amp;nbsp; awal dipasang angkanya 370, tahun&amp;nbsp; ini naik menjadi 383 ppm. Hal&amp;nbsp; ini, ujar Edvin, sangat mengkhawatirkan&amp;nbsp; karena Indonesia mengalami&amp;nbsp; peningkatan emisi CO2, sedangkan&amp;nbsp; komitmen dunia adalah&amp;nbsp; penurunan emisi CO2 secara global.&amp;nbsp; Memang, dibanding rata-rata&amp;nbsp; global dan Stasiun GAW Mauna&amp;nbsp; Loa (Hawaii, Amerika Serikat),&amp;nbsp; hasil pengukuran CO2 di Bukit&amp;nbsp; Kototabang masih lebih rendah.&amp;nbsp; Menurut Sri Woro, kecenderungan&amp;nbsp; konsentrasi karbon dioksida&amp;nbsp; terus naik. Kondisi atmosfer&amp;nbsp; yang semakin panas turut memengaruhi&amp;nbsp; suhu muka laut semakin&amp;nbsp; naik sehingga penguapan air&amp;nbsp; laut menjadi sumber hujan besar&amp;nbsp; yang belakangan ini terjadi. Kazuto&amp;nbsp; Suda, pakar dari World Data&amp;nbsp; Center for Greenhouse Gases, mengatakan&amp;nbsp; gradien peningkatan&amp;nbsp; konsentrasi karbon dioksida di semua&amp;nbsp; negara cenderung sama. Namun&amp;nbsp; dia tidak menyebutkan pemantauan&amp;nbsp; di negara mana yang&amp;nbsp; pertumbuhan konsentrasi karbon&amp;nbsp; dioksidanya tertinggi.&amp;nbsp; Ambang batas konsentrasi karbon&amp;nbsp; dioksida yang disepakati secara&amp;nbsp; internasional adalah 450 ppm&amp;nbsp; pada 2050. Banyak pihak mengusulkan&amp;nbsp; batas konsentrasi itu diturunkan&amp;nbsp; menjadi 350 ppm. Naiknya&amp;nbsp; konsentrasi karbon dioksida&amp;nbsp; menimbulkan perubahan cuaca.&amp;nbsp; Saat ini, kata Sri Woro, terjadi&amp;nbsp; cuaca yang ekstrem akibat suhu&amp;nbsp; muka laut yang terus menghangat&amp;nbsp; sepanjang tahun sehingga menjadikan&amp;nbsp; musim kemarau tetap dilanda&amp;nbsp; hujan. Hal ini akibat pengaruh&amp;nbsp; La Nina, yang diprediksi dalam&amp;nbsp; kondisi indeks yang kuat hingga&amp;nbsp; Februari 2011. . UNTUNG WIDYANTO&amp;nbsp; KLIMATOLOGI&amp;nbsp; Konsentrasi CO2&amp;nbsp; di Indonesia masih&amp;nbsp; di bawah rata-rata&amp;nbsp; global. Indonesia&amp;nbsp; akan menambah&amp;nbsp; dua stasiun pemantau&amp;nbsp; atmosfer global.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-5233926149583278018?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/5233926149583278018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/konsentrasi-co2-di-indonesia-masih-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/5233926149583278018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/5233926149583278018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/konsentrasi-co2-di-indonesia-masih-di.html' title='Konsentrasi CO2 di Indonesia masih di bawah rata-rata global.'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-7300708624963657908</id><published>2010-10-13T01:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T01:36:30.629-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah'/><title type='text'>Mengapa Jakarta Macet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa Jakarta Macet&amp;nbsp; Saya akan mencoba menganalisis penyebab kemacetan&amp;nbsp; lalu lintas di Jakarta.&amp;nbsp; Pertama, volume kendaraan pribadi makin bertambah,&amp;nbsp; makin lama makin banyak. Kenapa? Karena&amp;nbsp; kendaraan umum tidak nyaman, bahkan tidak layak&amp;nbsp; pakai bagi golongan menengah ke atas. Kenapa? Karena&amp;nbsp; berjubel, panas, banyak copet, lama menunggunya,&amp;nbsp; telat, dan lain sebagainya. Kenapa? Karena&amp;nbsp; jumlahnya kurang dan cenderung semakin sedikit,&amp;nbsp; bahkan saling&amp;nbsp; dikanibal . Kenapa? Salah manajemen,&amp;nbsp; atau mungkin karena kurang dana? Atau kurang&amp;nbsp; menguntungkan? Lo, padahal peminatnya semakin&amp;nbsp; banyak. Menurut hukum pasar, bila peminatnya&amp;nbsp; makin banyak, pasaran tinggi, maka pemasukan&amp;nbsp; juga makin tinggi. Profit juga logikanya makin tinggi,&amp;nbsp; bila pengelolaannya benar. Kenyataannya adalah begitu:&amp;nbsp; kendaraan umum makin sedikit, makin tidak&amp;nbsp; nyaman, padahal peminat makin banyak.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLVvRlSKydI/AAAAAAAAAqM/RhTxPHCw5lQ/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLVvRlSKydI/AAAAAAAAAqM/RhTxPHCw5lQ/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, dapat disimpulkan penyebabnya adalah&amp;nbsp; salah&amp;nbsp; pengelolaan . Bagaimana kemungkinan solusinya?&amp;nbsp; Dari analisis di atas, secara gamblang terlihat&amp;nbsp; bahwa, bila kendaraan umum ditambah hingga secukupnya,&amp;nbsp; calon penumpang tidak harus menunggu lama&amp;nbsp; (5 menit). Juga, kendaraan umum harus diperbaiki&amp;nbsp; kondisinya sedemikian rupa sehingga layak pakai&amp;nbsp; bagi golongan menengah ke atas, misalnya ber-AC,&amp;nbsp; berinterior nyaman, pengemudinya tidak ugal-ugalan,&amp;nbsp; dan lain-lain, sehingga mereka rela meninggalkan mobil-&amp;nbsp; mobilnya di rumah dan naik kendaraan umum.&amp;nbsp; Kendaraan umum harus bersih dan aman, bebas&amp;nbsp; dari copet, pengamen, dan gangguan-gangguan lain.&amp;nbsp; Tarif harus dibuat sepantasnya, artinya bisa menutup&amp;nbsp; semua pengeluaran dan mendapatkan profit&amp;nbsp; yang memadai, karena pengusaha kan harus mendapat&amp;nbsp; untung. Gaji karyawan harus cukup dan bukan&amp;nbsp; mengejar setoran. Tentang modal, bisa mengajak investor&amp;nbsp; swasta, atau asing.&amp;nbsp; Konsep ini harus dilihat secara sistem: dari rumah&amp;nbsp; mungkin pakai angkot ke terminal bus atau kereta&amp;nbsp; api, dan seterusnya. Semuanya harus memenuhi&amp;nbsp; persyaratan di atas. Alternatif lain: disediakan lahan&amp;nbsp; parkir yang cukup di setiap terminal untuk ruang parkir&amp;nbsp; mobil-mobil pribadi. Juga terminal, peron, halte&amp;nbsp; harus aman dan nyaman.&amp;nbsp; Bagaimana dengan busway? Sebetulnya tidak diperlukan&amp;nbsp; lagi, karena sistem kendaraan umum sudah&amp;nbsp; setara dengan busway. Namun bisa diteruskan&amp;nbsp; asalkan memenuhi persyaratan di atas.&amp;nbsp; Bagaimana dengan MRT? Ini tetap harus ada, karena&amp;nbsp; moda ini waktu tempuhnya singkat sekali, hemat&amp;nbsp; waktu.&amp;nbsp; Kesimpulannya, kami mengharapkan pemerintah&amp;nbsp; benar-benar menganalisis dan mencari solusi ini, sehingga&amp;nbsp; bisa mengatasi kemacetan secepatnya secara&amp;nbsp; ekonomis.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLVvYoPQ7NI/AAAAAAAAAqQ/TDLdd18G0oY/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLVvYoPQ7NI/AAAAAAAAAqQ/TDLdd18G0oY/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suradji H. Darmadji&lt;br /&gt;Vila Cinere Mas, Tangerang&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-7300708624963657908?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/7300708624963657908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/mengapa-jakarta-macet.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/7300708624963657908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/7300708624963657908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/10/mengapa-jakarta-macet.html' title='Mengapa Jakarta Macet'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/TLVvRlSKydI/AAAAAAAAAqM/RhTxPHCw5lQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5344923849118170183.post-3373792047777507148</id><published>2010-05-25T11:38:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T11:39:42.943-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni'/><title type='text'>GORESAN ONGGE DI KOMBOU VELLE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/S_wZaEb6CHI/AAAAAAAAAhA/tLN86d9aTTU/s1600/ongge.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/S_wZaEb6CHI/AAAAAAAAAhA/tLN86d9aTTU/s320/ongge.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masyarakat Kampung Asei, Distrik&amp;nbsp; Sentani Timur, Kabupaten Jayapura,&amp;nbsp; punya keahlian khusus.Mereka&amp;nbsp; biasa melukis di atas kulit kayu.Keahlian&amp;nbsp; ini sudah menjadi budaya turun-temurun.&amp;nbsp; Pada zaman nenek moyang dulu,&amp;nbsp; ukiran di atas kulit kayu hanya untuk kepala&amp;nbsp; suku Sentani atau Ondoafi.&amp;nbsp; Sekarang&amp;nbsp; lukisan di atas kulit kayu sudah banyak&amp;nbsp; dikomersialkan bagi para pelancong&amp;nbsp; ataupun peminat seni,&amp;nbsp; kata Agustinus&amp;nbsp; Ongge, pelukis kulit kayu asal Kampung&amp;nbsp; Asei, Distrik Senatani, Jayapura, di Hotel&amp;nbsp; Sahid,Ahad pekan lalu.&amp;nbsp; Om Ongge, demikian panggilan lelaki&amp;nbsp; paruh baya ini, hadir di Makassar untuk&amp;nbsp; memamerkan kerajinan tangannya di Hotel&amp;nbsp; Sahid Makassar. Pameran diikuti perajin&amp;nbsp; dari beberapa daerah di Tanah Air.&amp;nbsp; Lukisan kayu salah satunya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karya Om Ongge terbilang unik. Selain&amp;nbsp; medianya dari kulit kayu, corak dan motif&amp;nbsp; sarat nilai budaya Papua, seperti ikan,&amp;nbsp; perahu, atau tombak, yang dinilai sebagai&amp;nbsp; simbol-simbol kemakmuran. Hampir semua&amp;nbsp; motif lukisan menceritakan keadaan&amp;nbsp; sosial ekonomi masyarakat Sentani,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; menjelaskan.&amp;nbsp; Bahan dasar tempat melukis diambil&amp;nbsp; dari kulit pohon kombou, jenis pohon&amp;nbsp; yang tumbuh di tanah Papua. Tapi kombou&amp;nbsp; paling berkualitas adalah kombou&amp;nbsp; velle karena warnanya menyerupai kulit&amp;nbsp; kayu pada umumnya.&amp;nbsp; Karya Ongge sudah dijual seharga Rp&amp;nbsp; 150 ribu untuk ukuran kecil, 10 x 30 sentimeter,&amp;nbsp; Rp 500 ribu ukuran 100 x 50 sentimeter,&amp;nbsp; dan Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta&amp;nbsp; untuk ukuran 1 x 2 meter.&amp;nbsp; Kalau mau&amp;nbsp; menguliti kombou sebaiknya diameter&amp;nbsp; kayu 17 sentimeter. Kurang dari ukuran&amp;nbsp; itu kualitasnya kurang bagus dan berserat,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata Ongge, yang belakangan mengajar&amp;nbsp; melukis untuk anak muda di daerahnya.&amp;nbsp; Fenomena pelukis menggunakan kulit&amp;nbsp; pohon sebagai media sudah ada sejak zaman&amp;nbsp; dulu. Halilintar Latief, dosen Jurusan&amp;nbsp; Desain dan Komunikasi Visual Universitas&amp;nbsp; Negeri Makassar,menuturkan, pada&amp;nbsp; era modern, gaya melukis itu kembali diangkat&amp;nbsp; putra daerah dengan beberapa&amp;nbsp; motif baru sebagai kreativitas.&amp;nbsp; S&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; uku&amp;nbsp; Aborigin juga membuat lukisan di atas&amp;nbsp; kulit kayu. Tema lukisannya banyak bercerita&amp;nbsp; tentang laut, kata dia.&amp;nbsp; Biasanya motif lukisan berkaitan erat&amp;nbsp; dengan kehidupan sosial, budaya, atau&amp;nbsp; kebiasaan dalam masyarakat pada masa&amp;nbsp; itu. Kehadiran seni karya Ongge dinilai&amp;nbsp; menambah kekayaan khazanah seni di&amp;nbsp; Tanah Air. Apalagi, dalam perkembangannya,&amp;nbsp; lukisan jenis ini mengalami perubahan,&amp;nbsp; baik dari teknik maupun coraknya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejauh ini belum ada definisi tepat&amp;nbsp; untuk mengkategorikan lukisan bermedia&amp;nbsp; kulit kayu, ia menjelaskan.&amp;nbsp; Om Ongge datang ke Makassar atas&amp;nbsp; biaya Pertamina, sebagai mitra. Beberapa&amp;nbsp; tahun belakangan, ia kesulitan menemukan&amp;nbsp; bahan baku. Padahal jumlah penggemar&amp;nbsp; lukisannya meningkat. Tidak hanya&amp;nbsp; dari dalam negeri, permintaan dari luar&amp;nbsp; negeri juga banyak. Dengan semakin dikenalnya&amp;nbsp; lukisan kayu asal Sentani, diharapkan&amp;nbsp; budaya Papua bisa lestari.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sah&amp;nbsp; saja ada tudingan komersialisasi. Faktanya,&amp;nbsp; ini merupakan bagian upaya melestarikan&amp;nbsp; nilai budaya leluhur, ia menegaskan.&amp;nbsp; Chandara Hendrawan, seorang kolektor&amp;nbsp; lukisan di Makassar, mengatakan lukisan&amp;nbsp; dengan media kulit kayu sebagai&amp;nbsp; pengganti kanvas agak rapuh sehingga&amp;nbsp; rentan terjadi kerusakan. Pewarna lukisan&amp;nbsp; berbahan alami, bukan sintetis, sehingga&amp;nbsp; perlu pigura agar mempertahankan&amp;nbsp; warna.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meletakkannya juga harus selalu di&amp;nbsp; tempat kering untuk menghindari jamur,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata Chandra. Lukisan kombou semakin&amp;nbsp; langka karena keterbatasan sumber daya&amp;nbsp; alam.&amp;nbsp; Sofyan Salam, guru besar Fakultas Seni&amp;nbsp; dan Desain Universitas Negeri Makassar,&amp;nbsp; menilai tak ada istimewanya lukisan&amp;nbsp; di atas kulit kayu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satu satunya yang membuat istimewa&amp;nbsp; mungkin karena medianya yang tidak lazim&amp;nbsp; digunakan,&amp;nbsp; kata Prof Sofyan, yang&amp;nbsp; juga Pembantu Rektor II universitas tersebut&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5344923849118170183-3373792047777507148?l=indonesiaposting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/feeds/3373792047777507148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/05/goresan-ongge-di-kombou-velle.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/3373792047777507148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5344923849118170183/posts/default/3373792047777507148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonesiaposting.blogspot.com/2010/05/goresan-ongge-di-kombou-velle.html' title='GORESAN ONGGE DI KOMBOU VELLE'/><author><name>Agung hardiansyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16718925963708404822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/Sta-8pcqvYI/AAAAAAAAAAg/VKucWaGBmf8/S220/untitled2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RWDkC_hOpf0/S_wZaEb6CHI/AAAAAAAAAhA/tLN86d9aTTU/s72-c/ongge.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
