Pages

Friday, January 7, 2011

Negeri Para Joki

       Selamat datang di negeri joki. Di negara ini, ada  banyak hal yang bisa diwakilkan kepada para joki.  Mulai dari joki three-in-one yang mangkal di  mulut-mulut jalan protokol Ibu Kota, joki yang mewakili  calon mahasiswa perguruan tinggi, hingga mereka  yang menggantikan calon pegawai negeri sipil dalam  ujian penerimaan. Berita terakhir yang cukup mengejutkan  adalah munculnya joki narapidana.  Kisah perjokian narapidana ini memang baru sekali  ini terungkap. Kasiem, seorang narapidana kasus penyelewengan  pupuk yang sudah divonis bersalah dan  harus dipenjara, digantikan oleh Karni, yang konon  mendapat bayaran Rp 10 juta. Usaha ini terungkap secara  tak sengaja. Gara-garanya, tetangga Kasiem yang  menjenguk ke sel tak mendapati sang narapidana. Ia  justru bertemu dengan Karni, yang tak dikenalnya.  Kasus ini mungkin terlihat kecil dan berskala lokal.  Tapi penyelesaiannya tidak cukup dengan hanya memecat  dan memutasi pejabat yang terlibat. Apa yang  terjadi di Bojonegoro itu hanyalah satu dari sekian banyak  cara untuk mengakali hukuman.Kebobrokan  aparat negeri ini membuat hukuman penjara tak lagi  menimbulkan efek jera. 
       Ada banyak cara yang dipakai  agar tembok penjara setipis kertas koran.  Jika berduit banyak seperti Gayus Tambunan, orang  bahkan tak perlu menyewa joki. Ia bisa keluar-masuk  rumah tahanan berpuluh-puluh kali, terbang ke luar  negeri untuk mengurus aset kekayaannya, atau pelesir  ke Bali sambil menonton bola tenis yang terpentalpental.  Kalaupun tak bisa keluar, sel penjara toh bisa  disulap menjadi senyaman hotel, seperti dilakukan  Ayin atau Artalyta Suryani. Bahkan, dari penyelidikan  Badan Narkotika Nasional, banyak bandar narkotik  menjadikan penjara sebagai  kantor . Dari dalam bui,  mereka mengatur perdagangan obat bius.  Vonis penjara dari hakim terlalu lama? Santai saja.  Akan ada remisi dan berbagai pengurangan hukuman.  Bila  berperilaku baik , narapidana bisa benar-benar  menghirup udara bebas jauh sebelum masa hukumannya  selesai.  Itulah faktanya.Yang makin membuat miris, semua  kebusukan itu terkesan ditutup-tutupi oleh aparat penegak  hukum. Pengusutan baru dilakukan setelah masalahnya  ramai dibicarakan publik. Pelesiran Gayus  ke Bali dan luar negeri tidak terungkap oleh aparat,  melainkan justru oleh laporan masyarakat yang  awalnya bahkan dibantah oleh penegak hukum. Demikian  juga sel mewah Ayin dan kasus Kasiem di Bojonegoro.  Semua diungkap dari laporan masyarakat.  Ini menunjukkan adanya kongkalikong di antara petugas  dan juga lemahnya pengawasan.  Salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat,  Gayus Lumbuun, mengusulkan agar ada penambahan  anggaran untuk lembaga pemasyarakatan. Sebab,menurut  dia, minimnya anggaran menjadi sebab banyaknya  ketidakberesan di sana. Anggaran yang minim  memang masalah.Tapi bukan itu akar persoalannya.  Masalah mendasarnya adalah kuatnya mental meminjam  judul salah satu film Warkop DKI  Semua  Bisa Diatur . Petugas hukum dan aparat negara lainnya  selalu punya cara untuk mengakali peraturan  yang seharusnya mereka jaga.  Lalu, apa gunanya penjara? Apa gunanya hukuman?  Apa gunanya pengadilan? Di negeri para joki ini, semua  peraturan bisa diakali. Semua bisa diatur, dengan  atau tanpa joki  Koran Tempo

0 comments:

Post a Comment